Minggu, 11 April 2010

TULUS

Membaca tulisan ini mohon dengan hati nurani, dengan kesadaran yang terdalam. Insya Allah ada manfaatnya. Dalam khutbah Jumat, 6 Juni 2008, dengan khotib Ust. Edifrizal Darma, seorang dosen di FTSP Universitas Mercu Buana, disinggung mengenai kehidupan penyanyi kondang Gito Rolies (alm), yang diujung hayatnya ternyata dalam keadaan baik.
Saya jadi teringat sebuah lagunya, yang syair-nya kira-kira begini (bagi yang paham, anda boleh ikut menyanyikannya, cukup di dalam hati....)

Cinta yang tulus di dalam hatiku....
Telah bersemi karena-mu.....
Hati yang suram kini tiada lagi....
Telah bersinar karena-mu ......

Semua yang ada pada-mu.....
Oooo membuat diriku tiada berdaya .....
Hanyalah bagi-mu hanyalah untuk-mu seluruh hidup dan cintaku.....

Biarkan hujan membasahi bumi....
Atau bulan yang tiada berseri....
Namun jangan kau biarkan cintaku....
Yang tulus suci hanya pada-mu......

Nah, bagaimana kalau kita ubah sedikit syair-nya, menjadi seperti berikut :

Cinta yang tulus di dalam hatiku....
Telah bersemi karena-Mu.....
Hati yang suram kini tiada lagi....
Telah bersinar karena-Mu ......

Semua yang ada pada-Mu.....
Oooo membuat diriku tiada berdaya .....
Hanyalah bagi-Mu hanyalah untuk-Mu seluruh hidup dan cintaku.....

Biarkan bulan membasahi bumi....
Atau bulan yang tiada berseri....
Namun jangan kau biarkan cintaku....
Yang tulus suci hanya pada-Mu......

Jadi yang berubah itu hanya penulisan "mu" menjadi "Mu". Ya, memang cinta yang tulus itu hanya pada Allah SWT, Tuhan pencipta semesta alam. Begitu juga yang dialami Gito Rolies, jika di usia mudanya, seluruh cintanya hanya pada-mu, bisa harta, tahta, wanita, keluarga atau populeritas, tetapi diujung hayatnya seluruh cinta, hidup dan matinya, semata-mata hanya pada-Mu, karena dan untuk Allah SWT. Itulah arti cinta yang tulus......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar